Therapy Kemiskinan

Spread the love

Terapi kemiskinan, apa mungkin?
Kalau memang iya, gimana caranya? 🤔
.
Pertama, perluas pergaulan dan akses. Maaf, memang ini nggak mudah bagi orang menengah ke bawah. Tapi kalau kita supel dan ringan tangan, insya Allah pergaulan dan akses kita akan meluas. Beneran.
.
Kedua, intens belajar. Misalnya ilmu mindset, ilmu bisnis, ilmu penjualan, ilmu socmed, dll. Yup, harus mau menyisihkan waktu untuk menjemput ilmu. Apalagi sekarang banyak seminar dan training yang gratis. Ayo ikutan.
Berhentilah beralasan. 🙂
.
Ketiga, merasa bertanggung-jawab atas keadaan dan nasibnya. Jangan lagi nyalah-nyalahin orangtua, sekolah, pemerintah, dan takdir. Sepangalaman saya bertemu ratusan ribu orang, masih banyak orang yang suka menyalah-nyalahkan faktor eksternal. Ini keliru.
.
Keempat, berbagi. Miskin kok berbagi? Yah begitu. Sesiapa yang disempitkan rezekinya, hendaklah ia menafkahkan sebagian hartanya. Itu anjuran agama. Lagi sempit sekalipun tetaplah berbagi, biar segera keluar dari kesempitan. Nggak usah nunggu lapang.
.
Kelima, berbisnis. Kecil-kecilan dulu, nggak apa-apa. Insya Allah pelan-pelan dibesarkan. Bisnis rumahan dan bisnis online, dua hal ini sangat dianjurkan. Apalagi di tengah pandemi seperti sekarang.
Di sini, peran wanita nggak bisa dianggap enteng. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM, sekitar 60% UKM dikelola oleh wanita. Lihat aja penjual di pasar. Lihat juga penjual di IG. Rata-rata wanita kan?
.
#MOM #MomyOnlineMarketer #MbokOnlineMarketer